Rabu, 13 April 2011

Arti Kehidupan

Prolog
Pada mulanya adalah sebuah pertanyaan yang muncul dalam relung-relung sanaubari (Hati), mengapa saya ada ? Bukankah tidak ada bedanya seandainya saya tidak ada ? toh dunia ini akan tetap berlangsung tanpa kehadiran saya, sepertinya saya terlampar kedalam dunia karena saya memang tidak pernah minta untuk dilahirkan, kegembiraan dan kedukaan menerpa kehidupan saya, untuk apa semuanya ini ? kalau saya tidak perlu ada, pasti kehidupan saya juga tidak penting, hal ini terasa sekali bila saya menyadari bahwa pada suatu hari nanti kematian akan datang menjemput saya, lalu sesudah itu …? Barang kali sisa-sisa kenangan masih akan dibicarakan dalam satu-dua minggu, sesudah itu … dunia akan berjalan terus seolah saya tidak pernah ada.
Kegelisahan ini membawa saya kedalam refleksi mengenai dunia ini, apakah dunia ini memiliki makna …? Jangan-jangan dunia ini hanya panggung sandiwara, tempat manusia-manusia termasuk saya, memainkan perananya sejenak, lalu lenyap dibalik panggung, apakah memang demikian makna dunia ini …?
Bila kita renungkan sejenak, walaupun sejenak mudah-mudahan akan memberikan makna yang mendalam, yakni ketika melihat musibah yang menimpa saudara kita di Jepang, banyak sekali manusia yang bergelimpangan sampai seakan-akan mata ini tak percaya jika melihat kenyataan (di TV) atau melihat gambar-gambar di Koran, kalau boleh saya katakana agak kasar, seakan-akan bangkai manusia tak ada gunanya, bahkan sebagian para "Manusia" sendiri pun menghindarinya, berbeda bila yang berserakan itu bahan-bahan materi seperti kayu, seng, besi atau bahan logam lainya, bila dibandingkan dengan bangkai manusia bahan-bahan tersebut ternyata lebih berharga.
Terus dimanakah letak peranan manusia yang sesungguhnya ? dimanakah letak kemuliaanya ? haruskah hidup saya yang sekarang ini bagai mayat-mayat hidup yang tiada guna ?.
Mudah-mudahan Melalui sedikit goresan tinta ini akan memberikan kesejukan di hati kita untuk lebih mengenal siapa diri kita ? untuk apa kita hidup didunia yang fana ini aamiin.

Manusia dan Alam KOSMOS
Seperti alam semesta, manusia selalu berubah, bahkan menurut ibnu 'arabi manusia adalah mikro kosmos yang menggabungkan semua alam dalam makro kosmos. Manusia adalah alam shagir dan alam semesta adalah alam kabir, pada makro kosmos terdapat tiga tingkatan alam:
Man ‘Arofah Nafsahu ‘Arofah Rabbahu
(Kenali Dirimu maka Engkau akan Mengenal Tuhanmu)

Ketahuilah bahwa setiap hal yang terdapat di alam wujud ini selain Allah adalah perbuatan Allah dan penciptaan-Nya, dalam setiap dzarrah dari inti, gejala, sifat atau atribut terdapat berbagai keajaiban dan rahasia yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, kemuliaan dan keagungan Allah. Tapi hal tersebut tidak bisa di jangkau seluruhnya, karena sekiranya lautan dijadikan tinta untuk menulis hal tersebut niscaya lautan itu akan mengering sebelum mencapai sepersepuluhnya.
Didalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menggalakan tafakkur tentang penciptaan Allah, diantaranya firman Allah :”sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,”(Ali Imron:190). sebagaimana firman Allah:”Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya” Dari awak Al-qur’an hingga akhir, maka marilah kita kaji cara-cara tafakkur tentang sebagian tanda-tanda kekuasaan tersebut.
Diantara tanda-tanda kekuasaanya adalah manusia yang tercipta dari air mani (nuthfah) sesuatu yang paling dekat denganmu adalah dirimu sendiri. Didalam dirimu terdapat berbagai keajaiban yang menuujukkan keagungan Allah SWT. Sepanjang hidupnya manusia tidak sanggup mengungkap sepersepuluhnya, sementara anda bahkan melalaikanya, wahai orang yang lalai dan tidak mengetahui akan dirinya sendiri, bagaimana anda berambisi untuk mengetahui selain dirimu? Allah telah memerintahkan untuk mentadabburkan dirimu sebagaimana dalam Al-Qur’an yang mulia,”Dan dalam dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan? (adz-dzariat: 21),, Dia menyebutkan bahwa engkau diciptaka dari setetes air mani yang menjijikkan :” Binasalah Manusia; alangkah amat sangat kekafiranya? Dari apakah Allah menciptakanya? Dari setetes Mani, Allah menentukanya, kemudian Dia memudahkan jalanya, kemudian Dia mematikanya dan memasukkanya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkanya kembali.”(‘Abasa:17-22).
Allah berfirman :” Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan kamu dari Tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak,”(Ar-Rum:20)
“Bukankah dia dahulu setetes mani yang di tumpahkan kedalam (rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakanya, dan menyempurnakanya?(Al-Qiyamah:37-38)
Bukankah kami menciptakan kamu dari air yang hina, kemudian kami tempatkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim) sampai waktu yang ditentukan ?” (Al-Mursalat: 20-22)
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa kami menciptakanya dari setitik air mani, maka tiba-tiba ia kemudian menjadi penetang yang nyata,” (Yasin:77)
Sesungguhnya kami menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur,”(Al-insan:2)
kemudian Dia menyebutkan bagaimana setetes air mani itu Dia jadikan”segumpal Darah”, kemudian “segumpal darah” Dia jadikan “segumpal daging” kemudian “segumpal daging,” itu Dia jadikan tulang, Firman Allah: Dan sesungguhnya kami telah menciptakan Manusia dari suatu saripati berasal dari tanah. Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) kemudian kami jadikan air mani segumpal darah …” (Al-mu’minun:12-14)
Disebutkanya Nuthfah (setetes air mani) berulang-ulang didalam kitab yang mulia ini bukan untuk didengar lafadnya tanpa dinperhatikan maknanya.
Sekarang perhatikanlah setetes air mani – setetes air yang menjijikkan, seandainya dibiarkan sesaat saja terkena udara pasti akan rusak daan busuk- bagaimana Allah mengeluarkanya dari tulang sulbi dan tulang rusuk. Bagaimana Dia menghimpun antara laki-laki dan perempuan, menanamkan rasa cinta dan kasih saying di hati mereka, bagaimana Dia menuntun mereka dalam matarantai cinta dan syahwat dalam kepada pertemuan.Bagaimana mengeluarkan Air mani dari seorang laki-laki dengan gerakan senggama, dan bagaimana mengambil “telur” dari urat darah halus, kemudian bagaimana ia menciptakan janin dari setetes Air Mani dengan di beri makanan dan minuman hingga tumbuh, berkembang dan besar. Bagaimana setetes air mani yang berwarna putih berkilau Dia jadiakan segumpal darah berwarna merah, kemudian Dia jadikan segumpal daging, kemudian Dia Membagi bagian-bagian Nuthfah yang sama dan serupa itu menjadi tulang, urat, sel dan daging ? kemudian bagaimana Dia menyusun organ-organ dalam seperti Hati, perut, jantung, paru-paru, gunjal, rahim, dan pencernaan, masing-masing memiliki bentuk tersendiri dan ukuran tertentu untuk fungsi khusus. Kemudian bagaimana Dia membagi setiap organ tubuh ini dengan bagian-bagian lain, lalu menyusun mata dari beberapa lapisan, setiap lapisan punya sifat khusus dan struktur tertentu, seandainya salah satu lapisannya tidak ada atau hilang salah satu sifatnya niscaya mata itu tidak bisa melihat.
Sekarang perhatikanlah tulang, ia adalah organ yang sangat keras bagaimana Dia MenciptakanNya dari setetes mani yang lunak dan lembek, kemudian Dia menjadikan-Nya sebagai penopang badan, kemudian Dia menentukan ukuran-ukuran dan bentuk-bentuknya yang berbeda-beda ada yang kecil, besar, pendek, panjang, bundar, lebar dan halus, karena manusia memerlukan gerak dengan seluruh badanya dan sebagian badanya, maka Dia tidak menjadikan seluruh tulangnya terdiri atas satu tulang tetapi tulang yang banyak yang dipisahkan oleh sendi-sendi sehingga mudah untuk bergerak, dengan ukuran yang sesuai, kemudian menyambungkan sendi-sendinya dengan urat-urat daging yang ditumbuhkan dari salah satu ujung tulang dan diletakkan dengan tulang yang lain seperti pengikatanya, kemudian Dia menciptakan salah satu ujung tulang ‘benjolan-benjolan’ yang keluar darinya dan pada bagian lain ‘cekungan’ yang masuk kedalam sesuai dengan bentuk ‘benjolan’ agar bisa masuk kedalamnya dengan pas, sehingga apabila ingin menggerakan bagian badanya ia tak terhalangi. Kalau tidak ada persendian niscaya tidak bisa menggerakkan badanya.
Kemudian perhatikanlah penciptaan tulang kepala, Bagaimana Dia menghimpun dan menyusunya. Dia telah menyusunya dari 55 tulang yang beraneka macam bentuknya, sebagianya dipadukan dengan sebagian yang lain sehingga menjadi batok kepala yang anda lihat, enam diantaranya berkaitan denga tulang otak, empat belas tulang lainya berkaitan dengan tulang rahang atas, dua diantaranya berkaitan dengan rahang bawah, dan sebagianya adalah gigi yang sebagianya adalah tebal sehingga bisa dijadikan untuk “menggiling” dan sebagian lagi tajam sehingga bisa dijadikan untuk memotong yaitu gigi taring, gigi geraham dan gigi seri, kemudian Dia menjadikan tengkuk sebagai penopang kepala yang tersusun dari tujuh “engsel” yang melingkar dan elastis, tentang hikmah yang kami tunjukkan ini terlalu panjang unuk dipaparkan.
Kemudian Dia menyusun tengkuk diatas punggung dari bawah tengkuk sampai ujung tulang pinggul terdiri dari 24 “engsel” dan menyusun tulang pinggul dari tiga bagian yang berlainan lalu dari bawahnya bersambung dengan tulang tungging yang juga terdiri dari tiga bagian.
Kemudian menyambung tulang punggung dengan tulang rusuk, tulang lengan, tulang kedua tangan, tulang pinggang, tulang pinggul, tulang kedua paha, tulang kedua betis, jemari kedua kaki dan lain sebagainya, jumlah tulang yang terdapat pada tulang manusia sebanyak 248 tulang, selain tulang-tulang kecil yang mengisi celah-celah persendian. Perhatikanlah bagaimana Dia menciptakan semua hal tersebut dari air mani yang lembek dan hina.
Tujuan menyebutkan jumlah tulang ini bukan untuk diketahui jumlahnya semata-mata, karena hal ini merupakan ilmu pengetahuan yang dekat yang bisa diketahui oleh para dokter dan para ahli anatomi, tetapi tujuanya agar darinya bisa diperhatikan pencipta dan pengaturnya, bagaimana Dia menciptakan dengan ukuran-ukujran tertentu dan mengaturnya sedemikian rupa, Dia menciptakanya dengan jumlah tertentu sebab seandainya berlebih satu saja maka akan menyusahkan manusia untuk mencabutnya, Dokter memperhatikanya untuk diketahui cara pengobatanya sedangkan ahli bashirah menjadikanya untuk menjadi bukti atas kemuliaan pencipta dan pengaturnya, kedua pandangan ini sungguh jauh berbeda.
Kemudian perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala menciptakan sejumlah organ untuk menggerakkan tulang yaitu urat. Didalam tubuh manusia Allah menciptakan 529 urat, urat ini terdiri atas saraf, daging, pembalut dan selaput yang berlainan bentuk dan ukuran sesuai dengan perbedaan letaknya dan kadar kebutuhanya . 24 urat diantaranya untuk menggerakkan biji dan kelopak mata, seandainya berkurang satu maka akan menimbulkan kerusakan pada mata, demikianlah setiap urat disusun dalam jumlah dan ukuran tertentu, bahkan urusan saraf, urat nadi dan pembuluih jauh lebih kompleks dan lebih mengagumkan yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan, kemudian di dalam tubuh secara keseluruhan terdapat berbagai keajaiban, demikian pula sifat-sifat dan nilai-nilai yang tidak dapat diketahui dengan panca indra.
Sekarang perhatikan dhahir dan bathin manusia, perhatikanlah badan dan sifat-sifatnya, niscaya anda akan mengetahui berbagai keajaiban dan penciptaan yang menimbulkan decak kekaguman, semua itu adalah penciptaan Allah dari setetes air mani yang menjijikkan, dari sini anda bisa melihat keagungan ciptaaNya dalam setetes air mani, maka apa lagi ciptanNya dalam kerajaan langit dan planet-planetNya, bagaimana Maha bijaksanaNya dalam penciptaan dan pengaturan semua hal tersebut? Janganlah anda mengira bahwa satu partikel dan kerajaan langit akan terlepas dari kebijaksanaan dan pengaturanNya, ketimbang penciptaan tubuh manusia. Bahkan penciptaan benda-benda di bumi tak bisa dibandingkan dengan berbagai keajaiban kerajaan langit. Oleh sebab itu Allah berfirman:
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaanya ataukah langit ? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunananya lalu menyempurnakanya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.” (An-nazi’at:27-29)
kembali lagi pada setetes air mani dan renungkanlah keadaanya pertama kali dan bagaimana ia menjadi makhluk manusia, renungkanlah, seandainya jin dan manusia bersatu untuk menciptakan setetes air mani menjadi pedengaran, penglihatan, akal, ilmu, ruh, tulang, urat nadi, syaraf, kulit atau rambut, apakah mereka mampu melakukanya ? bahkan seandainya mereka ingin tahu hakekatnya dan cara penciptaannya setelah Allah menciptakan hal tersebut niscaya mereka juga tak akan sanggup melakukanya. Sungguh mengherankan, jika anda melihat lukisan manusia di sebuah dinding dengan lukisan yang sangat menarik hingga mirip dengan manusia, lalu orang yang melihatnya pun berucap, Mirip Manusia ! maka anda mengagumi karya pelukis dan kehebatanya, padahal anda mengetahui bahwa lukisan itu hanya di buat dengan cat, kuas, tangan, kemampuan melukis, ilmu pengetahuan dan keinginan, tak ada sesuatupun dari lukisan itu yang diciptkan oleh pelukisnya, bahkan berasal dari buatan orang lain, apa yang dilakukanya hanyalah memadukan antara cat dan dinding dalam sebuah tatanan tertentu, tetapi anda sudah sangat mengagumi dan mengagungknya.
Anda mengetahui setetes air mani yang menjijikkan itu diciptakan oleh penciptanya di dalam tulang sulbi dan rusuk, kemudian dikeluarkan darinya dan dibentuk dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan dalam ukuran yang serasi. Dia membagi bagian-bagiannya yang serupa menjadi beberapa bagian yang berbeda-beda, kemudian menumbuhkan tulang dengan cermat pada bagian-bagian tersebut, membentuk organ-organya dengan sangat indah, menghiasi dhahir dan bathinya, mengatur urat-urat dan syaraf-syarafnya, menciptakan alat saluran makanya agar bisa mempertahankan hidupnya, memberinya pendengaran, penglihatan,menciptakan tulang punggung sebagai penopang tubuhnya, perut sebagai penampung makananya, kepala sebagai penghimpun berbagai indranya, kemudian membuka mata dan menytusun lapisan-lapisanya dengan bentuk, warna dan struktur yang sangat indah kemudian melindunginya dengan kelopak, kemudian Dia membuka kedua telinganya dan meletakkan cairan pahit untuk melindungi pendengaranya dan menolak seranggak darinya, dan memagarinya dengan daun telinga untuk menghimpun suara lalu mengembalikanya ke alat pendengaranya, disamping untuk merasakan rayapan serangga. Di dalam telinga juga terdapat lekukan-lekukan agar orang yang tengah tertidur agar segera terbangun bila ada serangga atau sesuatu yang masuk kedalamnya. Kemudian Dia memunculkan hidung di tengah wajah dengan bentuk yang sangat indah, membuka kedua lubangnya dan meletakkan indra penciuman didalamnya untuk membau makanan-makananya dan menghirup hembusan udara yang menjadi makanan hatinya dan penyegaran batinya, Kemudian Dia membuka mulut dan meletakkan lidah didalamnya sebagai juru bicara dan pengungkap apa yang ada dalam hati, dan menghiasi mulut dengan gigi agar menjadi alat pengunyah dan memotong, Dia memperkuat akar-akarnya, mempertajam ujung-ujungnya, berwarna putih, dan menyusunya rata ujung-ujungnya seperti mutiara yang tersusun indah. Kemudia Dia menciptakan dua bibir dengan bentuk dan warna yang sangat indah untuk menutup mulut dan menyempurnakan keluarnya huruf-huruf pembicaraan, kemudian Dia menciptakan tenggorokan dan mempersiapkanya sebagai sarana keluarnya suara, kemudian Dia menciptakan pangkal tenggorokan dalam berbagai bentuk dan ukuran sehingga melahirkan perbedaan suara, tidak ada dua suara yang sama bahkan nampak perbedaan antar dua suara sehingga pendengar bisa membedakan orang semata-mata melalui suara di ruangan yang gelap. Kemudian Dia menghiasi kepala dengan rambut dan pelipis, menghiasi wajah dengan jenggot dan alis mata, menghiasi alis dengan rambut yang sangat tipis dan melengkung, dan menghiasi mata dengan rambut mata.
Kemudian Dia menciptakan organ-organ dan menundukkan untuk fungsi tertentu, Dia menciptakan pencernaan, paru-paru, empedu dan ginjal dengan fungsinya masing-masing, kemudian menciptakan kedua tangan dengan bentuk yang panjang untuk menjangkau apa yang dinginkan, melebarkan telapak tangan, membagi lima jari, membagi setiap jari dengan tiga lekukan, meletakkan empat jari di satu sisi dan ibu jari disisi yang lain, sehingga ibu jari bisa menjangkau semua jari. Seandainya orang-orang terdahulu dan terkemudian bersatu untuk mencari formasi lain menyangka, letak jemari tidak seperti apa yang sudah ada niscaya mereka tidak sanggup melakukanya, karena dengan susunan yang seperti itu tangan dipaksa untuk mengambil dan memberikan, Kemudian Dia menciptakan kuku sebagai hiasan jari dan berfungsi sebagai menggaruk badanya bila diperlukan, seandainya manusia tidak memiliki kuku yang merupakan anggota badan yang paling tidak berharga, lalu ia merasa gatal niscaya ia akan menjadi makhluk yang paling lemah dan tidak ada seorangpun yang bisa menggantikanya untuk menggarukknya, seandainya minta bantuan orang lain niscaya orang lain tersebut tidak akan menemukan tempat yang akan digaruk itu kecuali dengan susah payah dan waktu yang relatif lama. Allah menciptakan semua ini dari setetes air mani ketika masih ada dalam rahim dalam tiga kegelapan, seandainya tabir itu di bukakan dan dapat disaksikan niscaya bisa dilihat perencanaan dan gambar tersebut muncul satu persatu, tetapi pembuat gambar dan alatnya tak bisa terlihat! Pernahkah anda melihat pembuat gambar tanpa menyentuh alatnya dan pekerjaanya ketika dia membuatnya? Mahasuci Dia! Sungguh Mahaagung ciptaanNya sungguh nyata dalil-dalilNya.
Kemudian perhatikanlah kesempurnaan rahmatNya disamping kesempurnaan kekuasaanNya, sesungguhnya ketika bayi merasakan sempitnya rahim, karena dia semakin besar, bagaimana Allah memberinya petunjuk jalan sehingga bayin itu membalikkan posisi, bergerak, keluar dari tempat yang sempit itu dan mencari jalan keluar seolah-olah berakal dan melihat apa yang di perlukanya.
Kemudian setelah keluar dan memerlukan makanan, bagaimana Allah memberinya instink untuk mengenyot tetek? Karena badanya masih sangat rentan tidak bisa menerima makanan yang berat, bagaimana Allah mengaturnya dengan menciptakan susu yang lembut dan dikeluarkanya diantara kotoran dan darah menjadi minuman yang layak dan bersih, Bagaimana Dia menciptakan tetek dan mengumpulkan susu di dalamnya, menumbuhkan dua putting dalam ukuran yang pas dengan mulut bayi, kemudian membuka putting dengan satu lubang kecil sekali sehingga susu tidak keluar darinya kecuali setelah diisap secara bertahap, karena bayi tidak kuasa meminumnya kecuali sedikit, kemudian Bagaimana Allah memberinya instink untuk mengisap sehingga dari lubang yang sangat kecil itu dapat mengeluarkan ASI banyak bila sedanga lapar.
Kemudian perhatikanlah kasih sayang, rahmat dan kelembutaNya, bagaimana Allah mengakhirkan penciptaan gigi hingga mencapai usia dua tahun, karena dalam usia dua tahun itulah bayi tidak mengkonsumsi makanan kecuali ASI sehingga tidak memerlukan gigi. Bila sudah besar, ASI tidak cocok lagi baginya dan memerlukan makanan keras, memerlukan kunyahan, sehingga Allah menumbuhkan giginya sesuai dengan kebutuhan, tidak terlalu dini dan tidak terlambat. Mahasuci Allah bagaimana Dia mengeluarkan tulang keras tersebut dari isit yang lembek! Kemudian Allah melembutkan hati kedua orang tuanya untuk merawatnya pada saat dia sendiri tidak bisa mengurus dirinya sendiri, seandainya Allah tidak melimpahkan rasa kasih sayang ke dalam hati kedua orang tuanya niscaya bayi itu merupakan makhluk yang paling lemah untuk mengatur dirinya.
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat.”(Al-insan:1-2)
Perhatikanlah kelembutan dan kedermawanan yang ada, kemudian perhatikanlah kekuasaan dan kebijaksanaan yang membuat anda mengagumi penciptaanNya itu.
Tapi sungguh aneh orang yang menyaksikan tulisan yang sangat indah di sebuah dinding lalu membuatnya kagum dan mengagumi pelukisnya seraya berfikir bagaimana pelukis itu melukisnya dengan kemampuan yang tinggi, lalu dia berkata mengaguminya: betapa pintar dan sempurnanya pelukis itu! Namun setelah menyaksikan berbagai keajaiban yang ada dalam dirinya sendiri dan pada orang lain, mengapa mereka lupa akan penciptanya sehingga keagungan, kemuliaan dan kebijaksanaanNya tak pernah membuatnya kagum ?
Itulah keterangan singkat tentang berbagai keajaiban yang ada dalam tubuhmu yang tidak dapat dijelaskan semuanya. Ia merupakan obyek Muhasabah dan Tafakkur yang paling dekat dan bukti yang paling nyata atas keagungan penciptanya, tetapi anda mengabaikannya dan anda tidak mengetahui diri anda kecuali anda merasa lapar lalu makan hingga kenyang lalu dan tidur, bernafsu birahi lalu bermaksiat kepada Allah, dan marah lalu bertengkar. Semua binatang sama dengan anda dalam merasakan dan mengenali hal ini, kelebihan dan kekhususan manusia hanyalah terletak pada Ma’rifatullah dengan memperhatikan kerajaan langit dan bumi, serta berbagai keajaiban alam dan jiwa karena dengan hal inilah seorang hamba masuk ke dalam kalangan malaikat muqarrabin dan dikumpulkan ke dalam kelompok para Nabi dan Shiddiqin. Kedudukan ini tidak dimiliki oleh binatang dan tidak bisa juga dicapai oleh manusia yang menikmati dunia dengan nafsu binatang, karena binatang tidak memiliki kemampuan untuk melakukanya sedangkan manusia telah diberi Allah kemampuan tersebut kemudian ia mengabaikanya dan mengingkari Ni’mat Allah, mereka seperti binatang bahkan lebih buruk.

Tafakkaruu Fiikholqillah
Walaa tafakkaru fii dzatillah

Minggu, 18 April 2010

Kepala Sekolah Sebagai Motivator

Pendahuluan
Sekolah adalah lembaga yang bersifat kopleks dan unik. Bersifat unik karena sekolah sebagai organisasi didalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling barkaitan dan saling menentukan. Sedang sifat unik, menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lain. Ciri-ciri yang menempatkan sekolah memiliki karakter tersendiri, dimana proses belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan.
Karena sifatnya yang unik dan komplek itulah sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinsi yang tinggi. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.
Kepala sekolah yang berhasil adalah kepala sekolah yang memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Darisinilah dapat kita pahami bahwa tugas dan fungsi kepala sekolah sangat penting.
Sebelum kita mendiskusikan lebih dalam mengenai kepala sekolah sebagai motivator, kita harus memahami dua makna yang terkadung dalam kata Kepala dan Sekolah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kepala dapat diartikan sebagai “ketua” atau “pemimpin” dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga. Sedang ‘sekolah’ adalah sebuah lembaga dimana terjadi tempat menerima dan member pelajaran. Dengan demikian secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai “seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antar guru yang memberikan pelajaran dan murid yang menerima.
Dalam praktik organisasi kata pemimpin, mengandung konotasi menggerakkan, mengarahkan, memimbing, melindungi, membina, memberikan teladan, memberikan dorongan (motivator), memberikan bantuan dan lain sebagainya, oleh sebab itu pada kesempatan ini kami akan mendiskusikan tentang kepala sekolah sebagai motivator..
Kepala Sekolah Sebagai Motivator
Sudah diketahui bahwa motivasi dalam dunia pendidikan merupakan hal yang penting. Dengan motivasi mampu membangkitkan minat dan mampu mendorong seseorang untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi akan mampu mendorong peserta didik untuk mau belajar dan meningkatkan prestasi belajarnya, bagi guru akan mampu meningkatkan kegairahan untuk belajar dan meningkatkan kompetensi keguruannya sehingga mampu meningkatkan prestasi kerja dan pengajaran.
Barelson dan steiner (dalam Hutahuruk, 1987:115) mendefinisikan “motivasi sebagai suatu dorongan, mengaktifkan atau menggerakkan, dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku kearah tujuan”. Berbagai referensi mengemukakan bahwa motivasi berasal dari dua sumber, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri (bersifat intrinsic) dan motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik). Dari kedua asal motivasi tersebut, yang paling utama adalah motivasi yang berasal dari dalam diri orang tersebut. Sifat motivasi dari dalam akan berlangsung lebih lama dan relative stabil. Sedangkan motivasi dari luar cenderung berubah-ubah dan bersifat sementara.
Dalam kaitanya Kepala Sekolah sebagai Motivator (Pencipta iklim kerja); Mampu mengatur lingkungan kerja baik fisik maupun non fisik; Menetapkan prinsip penghargaan (reward) dan hukuman (punishment); Menciptakan hubungan kerja yang demokratis, harmonis dan dinamis diantara guru, karyawan dan siswa, lingkungan masyarakat; Menanamkan nilai-nilai nasionalisme.
Sebagai motivator, kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB).
Dorongan dan penghargaan merupakan dua sumber motivasi yang efektif diterapkan oleh kepala sekolah. Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor yang datang dari dalam maupun datang dari lingkungan. Dari berbagai faktor tersebut, motivasi merupakan suatu faktor yang cukup dominan dan dapat menggerakkan faktor-faktor lain ke arah keefektifan (effectiveness) kerja, bahkan motivasi sering disamakan dengan mesin dan kemudi mobil, yang berfungsi sebagai penggerak dan pengarah. Motivasi adalah proses untuk merangsang orang untuk memperbaiki prestasi masa lampau sambil sambil mendapatkan penghasilan psikis yang bertambah dari apa yang mereka lakukan (Cribbin, 1990: 145).
Setiap tenaga kependidikan memiliki karakteristik khusus, yang berbeda satu sama lain, sehingga memerlukan perhatian dan pelayanan khusus pula dari pimpinannya agar memanfaatkan waktu untuk meningkatkan profesionalismenya. Perbedaan tenaga kependidikan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam kondisi psikisnya, misalnya motivasinya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan, kepala sekolah perlu memperhatikan motivasi para tenaga kependidikan dan faktor-faktor lain yang berpengaruh.

Terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan kepala sekolah untuk mendorong tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan profesionalismenya.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
a.Para tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan.
b.Tujuan kegiatan perlu disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada para tenaga kependidikan sehingga mereka mengetahui tujuannya bekerja. Para tenaga kependidikan juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.
c.Para tenaga kependidikan harus selalu diberitahu tentang hasil dari setiap pekerjaannya.
d.Pemberian hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
e.Usaha memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dapat dilakukan dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, menunjukkan bahwa kepala sekolah memperhatikannya, mengatur pengalaman sedemikian rupa sehingga setiap pegawai pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan.

Penghargaan penting artinya untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan dan mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Melalui penghargaan, tenaga kependidikan dirangsang untuk meningkatkan profesionalisme kerjanya secara positif dan produktif. Pelakasanaan penghargaan dapat dikaitkan dengan prestasi tenaga kependidikan secara terbuka, sehingga mereka memiliki peluang untuk meraihnya. Kepala sekolah harus berusaha menggunakan penghargaan secara tepat, efektif dan efisien untuk menghindari dampak negatif yang ditimbulkannya.
Kepala Sekolah bertindak sebagai Motivator adalah Kemampuan memberi dorongan agar seluruh komponen pendidikan dapat berkembang secara profesional, dengan mengembangkan kemampuan :
- Kemampuan mengatur lingkungan kerja
- Kemampuan mengatur suasana kerja
- Kemampuan menerapkan prinsip
- Penghargaan dan hukuman
Departemen Pendidikan nasional menjabarkan peran kepala sekolah sebagai motivator sebagai berikut:
(1)Kepala Sekolah mampu mengatur lingkungan kerja.
(2)Mampu mengatur pelaksanaan suasana kerja yang memadai.
(3)Mampu menerapkan prinsip memberi penghargaan maupun sangsi hukuman sesuai dengan aturan yang ada.
Lebih lanjut untuk mengukur peran kepala sekolah seperti diatas, ditetapkan indokator-indikator sebagai berikut, kepala sekolah harus mampu :
a.Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja.
b.Mengatur ruang kelas yang konduktif untuk kegiatan belajar mengajar dan bimbingan konseling.
c.Mengatur ruang laboratorium yang konduktif.
d.Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar.
e.Mengatur halaman atau lingkungan sekolah yang sejuk dan teratur.
f.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru.
g.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama karyawan.
h.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara guru dan karyawan.
i.Menciptakan prinsip penghargaan (reward), dan
j.Menciptakan prinsip hukuman.
Penutup
Dari beberapa penjelasan kepala sekolah sebagai motivator dapat disimpulkan bahwa :
(1)Kepala sekolah yang berhasil adalah kepala sekolah yang memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.
(2)Sebagai motivator, kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB).
(3) Indokator-indikator sebagai berikut, kepala sekolah harus mampu :
a.Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja.
b.Mengatur ruang kelas yang konduktif untuk kegiatan belajar mengajar dan bimbingan konseling.
c.Mengatur ruang laboratorium yang konduktif.
d.Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar.
e.Mengatur halaman atau lingkungan sekolah yang sejuk dan teratur.
f.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru.
g.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama karya$wan.
h.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara guru dan karyawan.
i.Menciptakan prinsip penghargaan (reward), dan
j.Menciptakan prinsip hukuman.



Referensi :
Cribbin, James J. 1978. Effective Managerial Leadership. American Management Association,Inc.
Dharma, Agus. 1993. Blauchard, and Development. Edisi Indonesia, Pusdiklat Depdikbut.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Wahjosumidjo, 1999.Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta, PT Grafindo Persada.
___________, 1983. Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Kamis, 08 April 2010

Perencanaan Strategi dan Operasional

Perencanaan Strategi dan Operasional
Oleh: Ahmad Zain Fuad
Pendahuluan
Dua hal utama yang berkaitan dengan sebuah perencanaan adalah mengenai perencanaan strategi dan perencanaan operasional. Perencanaan strategi merupakan pandangan bahwa sebuah organisasi akan melaksanakan suatu pekerjaan dengan benar. Sedangkan perencanaan operasional Operasional memastikan bahwa apa yang kita kerjakan adalah benar sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan.
Perncanaan Strategi didefinisikan sebagai sebuah proses yang menentukan dalam sasaran atau tujuan, perubahan, dalam memperolah sumberdaya yang digunakan sebuah organisasi untuk mencapai apa yang di ingin diperoleh oleh organisasi tersebut.
Tujuan dari sebuah strategi secara langsung harus memiliki orientasi jangka panjang, memiliki potensi dan sumber daya yang berorientasi masa depan pula yang tentunya harus felksibel dan mudah beradaptasi dengan perubahan situasi dan kondisi yang telah terjadi. Tujuan strategi yang berorientasi masa depan biasanya lebih berorientasi pada klien dan secara langsung berhunbungan pada kebutuhan luar (eksternal). Rencana-renacana strategi menentukan karakter pimpinan organisasi yang sering berdasarkan pada hasil sebuah sistem.
Perncanaan Operasional adalah sebuah proses yang mana pengelola atau pememipin yang menentukan bahwa sumber daya telah didaptkan dan digunakan secara efektif dan efisien demi untuk melaksanakan atau menyempurnakan sasaran strategi. Perencanaan operasional fokus pada pengadaan suber daya, masalah-masalah operasional, dan stabilitas, semua itu harus dilasaknakan untuk meujudkan sasaran atau tujuan organisasi.
Sasaran Opersional biasanya berupa program, proyek (pembangunan) dan berorientasi pada staff secara langsung yang berhubungan dengan aktifias internal dan outcome organisasi. Rencana-rencana Operasional didesain untuk memperoleh hasil akhir dengan pengeluaran minimanl dan efisien untuk sumber daya lembaga dan organisasi.

Bottom-Up Planning dan Top-Down Planning
Dalam mertencanakan sebuah proses pekerjaan dengan benar, perencanaan strategi harus dikembangkan dan membuat prioritas akhir untuk perkembangan dan terlaksananya perencanaan opersional. Perencanaan Opersional seharusnya tidak dikembangkan dengan inten lebih dulu dari perencanaan strategi diatas. Perencanaan Operasional dalam hal ini dikembangkan untuk menggambarkan membatasi keinginan dan resiko internal.
Opertional manager memandang bahwa perbaikan, perubahan, dan perpaduan dari Opersinal plans sebagai urutan dalam urusan mereka dengan administrator tingkat atas (top-level adminsitrator). Mereka sering menjadi berkecil hati terhadap apa yang mereka rencanakan ternyata berubah dan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan.
Bahwa Perencanaan yang dimulai dari level terendah, pendekatan Bottom Up ini biasanya jika menghasilkan sebuah kekecewaan atau kegagalan dalam perencanaan maka lower level adminstrator akan mengabaikannya karena rencana-rencana tidak sesuai dengan tujuan strategi yang sangat dianggap penting oleh pemimpin tingkat atas (top-level adminsitrator). Jika situasi yang tidak diharapkan diatas muncul maka secepatnya harus diadakan perubahan dari rencana awal, sehingga diaharpakan nantinya setiap personal dalam organisasi itu mempunyai perhatian yang tinggi terhadap setiap masalah yang dihadapi oleh organisasi.
Disamping masalah sumber daya manusia, pendekatan dengan Bottom Up tidak efektif jika ada pemimpin tingkat atas (top-level adminsitrator) yang kurang faham terhadap perubahan perencanaan opersional sehingga mereka sulit menjalankannya.

Sumber Finansial
Sungguh tidak mungkin jika kita membicarakan sebuah rencana tapi mengesampingkan masalah finansial. Semakin baik kondisi finansial sebuah organisasi maka akan semakin bagus perjalanan organisasi tersebut khususnya dalam mendukung apa yang sudah direncanakan. Dan sebaliknya jika finansialnya kurang baik maka ada kemungkinan sebuah rencana yang sudah direncanakan dalam organisasi akan gagal.
Perencanaan strategi yang meliputi sasaran-sasaran dan tujuan organisasi diciptakan melalui proses adminstrasi yang dijalankan secara terus menerus dan seharusnya menjadi prioritas utama dalam memulai proses menganggarkan belanja. Rencana pendapatan dan belanja masuk untuk meneruskan atau melanjutkan perncanaan operasional. Bagaimanapun juga, jika anggaran belanja tidak di support, didukung oleh strategi plans maka hubungan antara perencanaan opersional dan strategi tidak akan bisa berkembang.

Sumber Daya Manusia
Hal penting yang lain dalam proses pelaksanaan sebuah perencanaan adalah sikap para pegawai, pekerjaan yang memuaskan, keadaan./suasana organisasi dan yang terakhir adalah penampilan (performance) para individu/pegawai.
masalah-masalah perencanaan, Planning Problems Khususnya yang berkembang selama pelaksanaan ketika individu dan kelompok terjadi konflik sehingga akan membahayakan dalam organisasi. Mekanisme kontrol yang tepat seperti adanya superfisi akan dapat mengurangi masalah-masalah yang ringan. Tidak ada yang lebih penting dalam planning daripada komitmen seseorang dan komitmen tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya kontrol.

Minggu, 24 Januari 2010

Refleksi; PERBEDAAN

Refleksi;
PERBEDAAN

oleh: ahmad zain fuad

Dalam kehidupan ini semua terjadi mengalir apa adanya tanpa retorika, semua berjalan secara otomatis, seakan-akan Tuhan sudah meletakkan “Prototipe” khusus yang sudah diletakkan di alam semesta termasuk perjalanan hidup manusia. Walaupun setiap isi kepala manusia mempunyai rencana kehidupanya masing-masing, semua punya impian tentang kehidupan ini. Adayang hidup sesuai dengan apa yang mereka inginkan adapula atau malah kebanyakan semua menjalani hidup tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran kira kita, yaaa semua berjalan sesuai dengan apa yang sudah di “setting” oleh Tuhan melalui “prototype” yang telah ditanamkan, sehingga semua berjalan secara otomatis. Namun yang membuat manusia menjadi hebat dari makhlik lain di alam semeta ini adalah Tuhan menanamkan Software khusus dalam diri manusia yaitu Pikiran, Perasaan, tingkah laku.
Kita sebagai manusia dibekali oleh Tuhan pikiran untuk memikirkan akan semua hal yang ada dalam benak, diri dan lingkungan kita, dengan perasaan kita, kita bisa menilai mana yang sesuai dengan etika dan norma. Dengan tingkah laku, kita bisa melihat sisi lain dari diri kita.
Tiap orang memiliki prinsip hidup yang berbeda, perbedaan makanan tidaklah menjadi prinsip dari perbedaan pola pikir ini, tapi karakter yang ada dalam diri inilah yang membuat mereka semua berbeda. Kondisi kejiwaan, pengalaman menjalani kehidupan inilah membuat isi batok kepala mereka menjadi berbeda.
Namun, janganlah menjadikan perbedaan isi batok kepala ini menjadi permsalahan yang berlarut-larut, dimanapun dan kapanpun. Seringkali perbedaan ini dijadikan momok yang penuh dengan masalah karena mereka memandang apa yang ada dalam diri seseorang yang berbeda dengan dirinya mereka anggap salah, dan akan dianggap “penyakit” bagi dirinya.
Kedewasaan pola pikir, lapang dada dalam menyikapi aneka prasangka yang tidak sesuai dengan apa yang ada, Bertingkah laku sesuai dengan apa yang ada. Insyaallah kehidupan ini semakin tentram, damai dan barakah.
Sikapilah segala perbedaan apa adanya, tidak perlu dibesar-besarkan, toh perbedaan itu adalah sunnatullah. Coba pikir, adakah orang didunia yang kembar identik sama persis secara psikologis? Adakah orang hidup di dunia yang mempunyai keinginan dan perasaaan yang sama. Adakah orang yang memiliki perilaku yang sama dalam bertindak?.
Sadarilah… bahwa perbedaan itu indah, dengan perbedaan kita bisa belajar tentang diri kita. Dengan perbedaan kita tidak mudah jenuh menjalani kehidupan, dengan perbedaan kita mempunyai banyak cerita, dengan perbedaan akan timbul rasa persaudaraan dan solidaritas, dengan perbedaan kita bisa menjalani kehidupan penuh dengan warna.
Malang, 19 Januari 2010

Tiada sesuatu yang terjadi tanpa adanya kehendak, kita hidup menjalani kehendak sang pencipta yang terwakili oleh olah pikir kita, dengan pikiran kita, kita semua bergerak menjalani kehidupan ini, dengan bergeraknya kehidupan ini maka lahirlah sebuah kreatiftas, dengan kreatiftas muncullah pencipta, dengan munculnya pencipta muncullah tuhan-tuhan kecil yang ingin dipuji dan dipuja.

Selasa, 24 November 2009

GLOBALISASI PENDIDIKAN

Bila kita ingin menanggapi tentang globalisme memang sangat menarik, apalagi isu globalisme tersebut disandingkan dengan dunia pendidikan maka timbullah kebijakan dalam dunia pendidikan kita yaitu Sekolah Bertaraf Internasional atau Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, bak kacang goreng yang laris dicari orang mungkin inilah istilah yang tepat untuk mengistilahkan trend yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, khususnya dalam dunia pendidikan. Keberadaan sekolah-sekolah yang bermunculan saat ini seperti SBI merupakan sekolah yang paling diminati oleh masyarakat pada umumnya, walaupun dengan biaya selangit, kualitas tidak sebanding dengan nama yang mereka tempelkan di jargon sekolah yaitu “Intenasional”, para orangtua berlomba-lomba menyekolahkan buah hati mereka untuk “beradu nasib” di sekolah yang “menjanjikan” ini yang terkadang juga hanya karena ingin meninggikan “gengsi’ (prestise) di tengah-tengah komunitas mereka.
Seringkali orang kurang memahami kebijakan yang terkait dengan kata-kata “Internasional” dalam satuan pendidikan yang ada di negeri ini. Orang lebih bangga bila anak mereka bisa sekolah disekolah yang “berprestise” ini. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa memahami tentang kebijakan ini. Internasionalisasi dunia pendidikan ini merupakan bagian dari isu PBB (perserikatan Bangsa-Bangsa) yang dikenal dengan MDG’s (Millenium Development Goals,2006). Dalam kebijakan ini PBB menginginkan adanya kemajuan yang merata di berbagai bidang. Salah satunya adalah dunia pendidikan yang sekarang lebih dikenal dengan SBI (Sekolah Berstandar Internasional).
Bagi negara yang masih berkembang diharapkan dapat mencontoh Negara yang lebih maju termasuk dalam dunia pendidikan. Yang selanjutnya penulis menistilahkan dengan globalisasi pendidikan. Mungkin dengan adanya globalisasi pendidikan disatu sisi akan mendatangakan sebuah “berkah” namun disatu sisi juga akan mendatangkan “petaka”, atau dipihak lain akan muncul sebuah “kegembiraan” sekaligus muncul sebuah “kepedihan”. Cirri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Disitu terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi dunia pendidikan kita. Jika ambivalensi globalisasi ini kita kaitkan dalam dunia pendidikan paling tidak akan muncul beberapa hal, diantaranya adalah :
1.Globalisasi menghadirkan pesona "kecepatan" yang akan berlawanan dengan masalah "kedangkalan pemahaman pengetahuan pada anak didik";
2.Globalisasi "menguntungkan bagi yang berpikir dan bertindak cepat" dan "celaka bagi orang yang berpikir dan bertindak lambat;
3.Globalisasi akan "memudahkan membuat hubungan dan mengatasi jarak wilayah (lokalitas) " tetapi "adanya ketidakpekaan pada akar dan ciri-ciri budaya lokal"; dan
4.Globalisasi akan "memunculkan potensi menyelesaikan masalah secara cepat pada skala global" tetapi "menjadi beban keluasan lingkup pada skala penyebab masalah".
Berbagai dilema diatas akan tetap menjadi ciri globalisasi sampai kapanpun. Namun kita sebagai pendidik mau tidak mau pasti akan masuk dalam sebuah sistem yang sudah merajalela berbagai lini kehidupan ini, walaupun awal Agenda ini terbentuk dalam ranah ekonomi, yaitu pemercepatan Interkoneksi Global (O’Neill,2004).
Bagaimana sikap kita menghadapi kenyataan tersebut?
Dalam menghadapi kenyataan ini, paling tidak kita akan menghapi dua pilihan yaitu antara “membiarkan diri terseret oleh proses globalisasi” atau “kita memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi”. Penulis kira, kita semua pasti akan memilih pada pilihan yang kedua yakni memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi, dengan demikian kita harus memasuki sebuah sistem yang sudah mendunia ini dengan penuh sadar dan ikhlas.
Di samping itu, kita harus pula mendefinisikan dengan jelas, jenis globalisasi seperti apa yang akan kita pergunakan sebagai rancangan dasar untuk menjalani proses pendidikan yang ada saat ini. Penulis kira hal ini sangat penting, mengingat dengan alasan bagaimanapun kita sebagai bangsa Indonesia memiliki pola pikir dan tindak laku yang berbeda dengan orang-orang barat sehinggga kita tidak serta merta mengingkuti apa yang ada dalam dunia barat, termasuk dalam standarisasi pendidikan yang sekarang lebih “ngetren” disebut dengan Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Kita harus berfikir ulang dan menformat system pendidikan yang sesuai dengan budaya kita, dengan pola pikir masyarakat timur, dengan tetap memperhatikan etika kecerdasan jiwa (Spiritual, Emosional) dan tidak menafikan potensi Intelektual lahiriah.

Redefinisi Teori Belajar

REDEFINISI TEORI BELAJAR
Setelah membaca dan berusaha memahami secara sekilas mengenai definisi belajar yang ada saat ini banyak sekali dipengaruhi oleh pemikiran ahli pendidikan barat, yang notabene pemikiran mereka seringkali jauh dari adab dan pemikiran orang-orang timur. Pemikiran para ilmuan barat tentang belajar sering kali melupkan hal-hal yang bersifat spiritual, paling “mentok” mereka hanya sebatas berfikir masalah emosional, teori inipun baru muncul dalam dekade terakhir pada abad 20.
Bila kita cermati, hampir semua refernsi karya ilmiah kita temukan semua memakai refrensi para pemikir ilmuwan barat. Bukanya tidak boleh tapi alangkah lebih baiknya kita bangga dan lebih mengutamakan karya para Ilmuan muslim khususnya terkait dengan masalah pembelajaran/pendidikan.
Perlu kita ketahui bersama, bahwa belajar merupakan proses penemuan jati diri dan relevansi ide, jika dalam proses penemuan jati diri ini dengan dilandasi adanya ide-ide dari para Ilmuawan yang sering kali kurang sesuai dengan keyakinan kita sebagai umat yang beragama ini akan sangat berbahaya bagi pola perkembangan berfikir umat kedepan. Tentang pemahaman filosofi manusia, pembelajaran dan tujuan hidup di dunia misalnya, bagi para Ilmuwan barat khususnya yang Atheis kebanyakan menganggap bahwa hidup ini cukup di dunia saja, tanpa mengenal akhlak, kehidupan setelah mati (akhirat). Ini penting untuk di cermati sebagai landasan pola pikir kita sebagai pelaksana dan pengemban amanah pendidikan.
Implikasi dari pemikiran ini adalah munculnya teori-teori baru tentang pembelajaran khususnya mengenai prinsip-prinsip pembelajaran yang sering kali melupakan dimensi terpenting dalam jiwa manusia yaitu mengenai perbaikan mutu akhlakul karimah dalam jiwa pendidik dan peserta didik. Belajar adalah proses menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan akhlak yang baik. Dengan demikian pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan-perubahan yang progressive pada tingkah laku manusia. Hal ini didasarkan pada batin manusia yang memiliki empat unsur yang harus diperbaiki secara keseluruhan serasi dan seimbang. Keempat unsur tersebut meliputi: kekuatan ilmu, kekuatan “ghadab”(kemarahan), kekuatan syahwat (keinginan), dan kekuatan keadilan. Dengan terintegrasinya keempat unsur tersebut dalam diri manusia, maka diharapkan dapat melahirkan keindahan watak manusia.
Sedangakan tujuan pembelajaran itu sendiri pada akhirnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan manusia untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, inilah tujuan akhir hidup kita sebagai umat beragama.
Bertolak dari pemikiran diatas, maka secara jelas dapat dikatan bahwa tujuan pembelajaran yang dikonsepkan oleh para Ilmuwan Barat ada sedikit perbedaan yang mencolok dengan pola pikir orang timur yang masih sangat “gandrung” dengan nilai-nilai agama, akhlakul karimah, konsep tentang kesempurnaan manusia baik dhahir maupun bathin. Oleh sebab itu, kita sebagai pendidik harus bisa memposisikan diri untuk memperbaiki diri sehingga akan muncul akhlak yang luhur karena ia menjadi publik figur yang patut diteladani dan diberi amanah untuk membimbing murid dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, yaitu kesempurnaan manusia dunia akhirat. Jika seorang guru sudah bisa memberikan tauladan yang baik maka insyaallah akan terbentuk perilaku yang baik (akhlakul karimah) dalam jiwa peserta didik (murid), jangan dijadikan guru sebagai profesi ansich tapi jadikan guru sebagai wujud pengabdian untuk membina umat manusia menuju manusia berbudi luhur.

Sabtu, 21 November 2009

Sabtu, 21 Nopember 2009

RAHASIA DIBALIK SETIAP PERMASALAHAN

(Laksitaning Subrata Tanyipto Marang Bayaning Lampah)
Setiap manusia tak akan bisa menjauh dari permasalahan (problem) dan tiap-tiap individu diberikan oleh allah senjata untuk mengatasi setiap permasalahnya masing-masing, dan untuk menyelesaikanya tak jarang mereka harus berjuang mati-matian untuk bisa bertahan dan menguasainya tapi tak jarang pula yang 'kalah' dalam menghadapi permasalahan disebabkan kebanyakan dari mereka tak sadar bahwa hidup ini merupakan suatu masalah ketika kita lahir umpamanya kita sudah dihadapi sebuah permasalahan bahkan kita sudah memberikan masalah pada orang lain.
Bila kita mau merenung dan meresapi setiap permasalahan yang menimpa kita atau merenungkanya setiap detik dari perjalanan hidup ini, maka kita akan menemukan suatu pertanyaan seandainya hidup ini tak ada permasalahan maka apa yang terjadi ? apakah kita bisa hidup bila kita tak dihadpakan suatu permasalahan ? sering kali kita lupa bahwa karena suatu permasalahan lah kita akan mermperoleh kedewasaan dalam berfikir,bersikap dan dalam memutuskan suatu keputusan,, dengan adanya permaslahan kita akan lebih cerdas dalam menghadapi hidup ini karena dalam permasalahan kita akan tertantang untuk mencari solusi dan menyelesaikanya.



Adanya mobil, Rumah atau apa saja yang ada di dunia ini pasti bermula dari suatu permasahan, hanya Manusia yang ULUL AL-ALBAB yang mampu mengambil suatu pernmasalahan menjadi hal-hal yang bermanfaat bagi sesama karena mereka selalu berfikir dan berfikir, yang dibarengi dengan berbagai macam pertanyaan mengapa ALLAH SWT, menciptakan semua ini ? Bila Allah menciptan hal ini pasti ada HIKMAHNYA, hal inilah yang membedakan antara kita dengan manusia-manusia pilihan (Ulul Al-albab).
Sering kali kita berkelu kesah setiap menghadapi permasalahan dan tak jarang pula kita menyalakan orang lain yang disertai dengan berbagai apologi, seharusnya kita lebih jujur dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelesaikanya bukankah ALLAH berfirman dalam Al-qur'an Bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dalam surat tersebut Allah SWT meyakinkan pada kita sehingga dipertegas sampai dua kali, selain ayat tersebut Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah La yukallifullah nafsan Illa Wus'aha (Allah tidak akan memberikan suatu beban pada seseorang kecuali Allah sudah mngukur kadar kemampuanya). dari hal tersebut masihkah kita punya fikiran untuk lari dari setiap permasalahan ??? sungguh hanya orang-orang yang Malas lah yang putus asa dalam menghadapi permaslahan.
Dari beberapa uraian diatas tentunya lahir sebuah pertanyaan baru, kalau memang benar bahwa setiap masalah itu dari Allah dan di setiap permasalahan itu ada hikmah yang terkandung, Bagaimanakah cara kita untuk menyikapi suatu permasalahan sehingga muncul suatu solusi yang penuh dengan Hikmah ? selain itu bisa kah kita mendeteksi dari mana sebenarnya Allah meletakkan pertama kali rasa perasaan yang menganggap bahwa sesuatu itu merupakan suatu problem (masalah) ? benarkah hidup ini akan lebih tenang bila kita bisa menghayati setiap kejadian (masalah) disertai dengan rasa penuh kesabaran dan selalu berdzikir (ingat kebesaran dan kerahimanNya) pada Allah maka permasalahan itu akan sirnah ?
Secara psikologis setiap individu mempunyai kecendrungan sendiri-sendiri dalam menyikapi setiap permasalahan yang ada disekitarnya, tergantung latar belakang (background), budaya (pendidikan, social ) tempat ia hidup, seperti orang yang beragama (mengaku adanya eksistensi tuhan dalam dirinya) maka ia akan cendrung mengembalikan setiap permaslahan yang ia hadapi pada Tuhanya (Tawakkal) dan tak jarang pula pada kelompok ini akan bersifat apatis dalam ke hidupan, sehingga ia cendrung bersifat Jabbariyah (tanpa usaha yang sungguh-sungguh/terlalu pasrah pada kehendak Tuhan) dalam menghadapi setaip problem (permaslahan) begitu pula sebaliknya bagi mereka yang keyakinanya pada tuhan kurang maka ia akan selalu lari dari permasalahan dengan berbagai cara, ada yang minum obat penenang, ada pula yang memecahkan permasalahannya dengan menkonsumsi barang-barang yang membahayakan seperti narkoba dll.
Selain itu adapula yang berkeyakinan bahwa setiap permaslahan itu sebenarnya muncul dari dalam individu-individu itu sendiri, ini artinya bahwa bila seseorang tersebut menganggap dalam hatinya 'ini adalah suatu masalah' maka muncullah di permukaan bahwa hal tersebut memang benar-benar masalah, namun bila kita menganggap bahwa hal tersebut bukan suatu masalah dan hanya menganggap bahwa ini merupakan 'Ilmu Baru' dengan penuh keyakinan yang mantap disertai dengan berfikir jernih dan penuh dengan ketenangan maka yang muncul adalah suatu solve yang jitu yang seakan akan tak ada masalah lagi, inilah yang disebut dengan ber Husnudhon pada Allah, karena ia yakin bahwa setiap permasalahan yang diberikan oleh Allah padanya tentunya sudah diukur pada kemampuan masing-masing individu, sehingga yang dipikirkan hanya apa Hikmahnya (Ilmu yang tersimpan pada setiap permasalahan yang dihadapi) yang dapat diambil, dengan semangat yang menggebu dibarengi dengan belajar sungguh-sungguh uintuk mencari solusinya, bila hal ini dalakukan dengan kontinyu maka muncullah Jiwa-jiwa kesatria yang siap menghadapi ganasnya gelombang kehidupan.
by: Ahmad Zain Fuad*