Selasa, 24 November 2009

GLOBALISASI PENDIDIKAN

Bila kita ingin menanggapi tentang globalisme memang sangat menarik, apalagi isu globalisme tersebut disandingkan dengan dunia pendidikan maka timbullah kebijakan dalam dunia pendidikan kita yaitu Sekolah Bertaraf Internasional atau Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, bak kacang goreng yang laris dicari orang mungkin inilah istilah yang tepat untuk mengistilahkan trend yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, khususnya dalam dunia pendidikan. Keberadaan sekolah-sekolah yang bermunculan saat ini seperti SBI merupakan sekolah yang paling diminati oleh masyarakat pada umumnya, walaupun dengan biaya selangit, kualitas tidak sebanding dengan nama yang mereka tempelkan di jargon sekolah yaitu “Intenasional”, para orangtua berlomba-lomba menyekolahkan buah hati mereka untuk “beradu nasib” di sekolah yang “menjanjikan” ini yang terkadang juga hanya karena ingin meninggikan “gengsi’ (prestise) di tengah-tengah komunitas mereka.
Seringkali orang kurang memahami kebijakan yang terkait dengan kata-kata “Internasional” dalam satuan pendidikan yang ada di negeri ini. Orang lebih bangga bila anak mereka bisa sekolah disekolah yang “berprestise” ini. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa memahami tentang kebijakan ini. Internasionalisasi dunia pendidikan ini merupakan bagian dari isu PBB (perserikatan Bangsa-Bangsa) yang dikenal dengan MDG’s (Millenium Development Goals,2006). Dalam kebijakan ini PBB menginginkan adanya kemajuan yang merata di berbagai bidang. Salah satunya adalah dunia pendidikan yang sekarang lebih dikenal dengan SBI (Sekolah Berstandar Internasional).
Bagi negara yang masih berkembang diharapkan dapat mencontoh Negara yang lebih maju termasuk dalam dunia pendidikan. Yang selanjutnya penulis menistilahkan dengan globalisasi pendidikan. Mungkin dengan adanya globalisasi pendidikan disatu sisi akan mendatangakan sebuah “berkah” namun disatu sisi juga akan mendatangkan “petaka”, atau dipihak lain akan muncul sebuah “kegembiraan” sekaligus muncul sebuah “kepedihan”. Cirri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Disitu terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi dunia pendidikan kita. Jika ambivalensi globalisasi ini kita kaitkan dalam dunia pendidikan paling tidak akan muncul beberapa hal, diantaranya adalah :
1.Globalisasi menghadirkan pesona "kecepatan" yang akan berlawanan dengan masalah "kedangkalan pemahaman pengetahuan pada anak didik";
2.Globalisasi "menguntungkan bagi yang berpikir dan bertindak cepat" dan "celaka bagi orang yang berpikir dan bertindak lambat;
3.Globalisasi akan "memudahkan membuat hubungan dan mengatasi jarak wilayah (lokalitas) " tetapi "adanya ketidakpekaan pada akar dan ciri-ciri budaya lokal"; dan
4.Globalisasi akan "memunculkan potensi menyelesaikan masalah secara cepat pada skala global" tetapi "menjadi beban keluasan lingkup pada skala penyebab masalah".
Berbagai dilema diatas akan tetap menjadi ciri globalisasi sampai kapanpun. Namun kita sebagai pendidik mau tidak mau pasti akan masuk dalam sebuah sistem yang sudah merajalela berbagai lini kehidupan ini, walaupun awal Agenda ini terbentuk dalam ranah ekonomi, yaitu pemercepatan Interkoneksi Global (O’Neill,2004).
Bagaimana sikap kita menghadapi kenyataan tersebut?
Dalam menghadapi kenyataan ini, paling tidak kita akan menghapi dua pilihan yaitu antara “membiarkan diri terseret oleh proses globalisasi” atau “kita memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi”. Penulis kira, kita semua pasti akan memilih pada pilihan yang kedua yakni memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi, dengan demikian kita harus memasuki sebuah sistem yang sudah mendunia ini dengan penuh sadar dan ikhlas.
Di samping itu, kita harus pula mendefinisikan dengan jelas, jenis globalisasi seperti apa yang akan kita pergunakan sebagai rancangan dasar untuk menjalani proses pendidikan yang ada saat ini. Penulis kira hal ini sangat penting, mengingat dengan alasan bagaimanapun kita sebagai bangsa Indonesia memiliki pola pikir dan tindak laku yang berbeda dengan orang-orang barat sehinggga kita tidak serta merta mengingkuti apa yang ada dalam dunia barat, termasuk dalam standarisasi pendidikan yang sekarang lebih “ngetren” disebut dengan Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Kita harus berfikir ulang dan menformat system pendidikan yang sesuai dengan budaya kita, dengan pola pikir masyarakat timur, dengan tetap memperhatikan etika kecerdasan jiwa (Spiritual, Emosional) dan tidak menafikan potensi Intelektual lahiriah.

Tidak ada komentar: