Selasa, 24 November 2009

Redefinisi Teori Belajar

REDEFINISI TEORI BELAJAR
Setelah membaca dan berusaha memahami secara sekilas mengenai definisi belajar yang ada saat ini banyak sekali dipengaruhi oleh pemikiran ahli pendidikan barat, yang notabene pemikiran mereka seringkali jauh dari adab dan pemikiran orang-orang timur. Pemikiran para ilmuan barat tentang belajar sering kali melupkan hal-hal yang bersifat spiritual, paling “mentok” mereka hanya sebatas berfikir masalah emosional, teori inipun baru muncul dalam dekade terakhir pada abad 20.
Bila kita cermati, hampir semua refernsi karya ilmiah kita temukan semua memakai refrensi para pemikir ilmuwan barat. Bukanya tidak boleh tapi alangkah lebih baiknya kita bangga dan lebih mengutamakan karya para Ilmuan muslim khususnya terkait dengan masalah pembelajaran/pendidikan.
Perlu kita ketahui bersama, bahwa belajar merupakan proses penemuan jati diri dan relevansi ide, jika dalam proses penemuan jati diri ini dengan dilandasi adanya ide-ide dari para Ilmuawan yang sering kali kurang sesuai dengan keyakinan kita sebagai umat yang beragama ini akan sangat berbahaya bagi pola perkembangan berfikir umat kedepan. Tentang pemahaman filosofi manusia, pembelajaran dan tujuan hidup di dunia misalnya, bagi para Ilmuwan barat khususnya yang Atheis kebanyakan menganggap bahwa hidup ini cukup di dunia saja, tanpa mengenal akhlak, kehidupan setelah mati (akhirat). Ini penting untuk di cermati sebagai landasan pola pikir kita sebagai pelaksana dan pengemban amanah pendidikan.
Implikasi dari pemikiran ini adalah munculnya teori-teori baru tentang pembelajaran khususnya mengenai prinsip-prinsip pembelajaran yang sering kali melupakan dimensi terpenting dalam jiwa manusia yaitu mengenai perbaikan mutu akhlakul karimah dalam jiwa pendidik dan peserta didik. Belajar adalah proses menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan akhlak yang baik. Dengan demikian pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan-perubahan yang progressive pada tingkah laku manusia. Hal ini didasarkan pada batin manusia yang memiliki empat unsur yang harus diperbaiki secara keseluruhan serasi dan seimbang. Keempat unsur tersebut meliputi: kekuatan ilmu, kekuatan “ghadab”(kemarahan), kekuatan syahwat (keinginan), dan kekuatan keadilan. Dengan terintegrasinya keempat unsur tersebut dalam diri manusia, maka diharapkan dapat melahirkan keindahan watak manusia.
Sedangakan tujuan pembelajaran itu sendiri pada akhirnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan manusia untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, inilah tujuan akhir hidup kita sebagai umat beragama.
Bertolak dari pemikiran diatas, maka secara jelas dapat dikatan bahwa tujuan pembelajaran yang dikonsepkan oleh para Ilmuwan Barat ada sedikit perbedaan yang mencolok dengan pola pikir orang timur yang masih sangat “gandrung” dengan nilai-nilai agama, akhlakul karimah, konsep tentang kesempurnaan manusia baik dhahir maupun bathin. Oleh sebab itu, kita sebagai pendidik harus bisa memposisikan diri untuk memperbaiki diri sehingga akan muncul akhlak yang luhur karena ia menjadi publik figur yang patut diteladani dan diberi amanah untuk membimbing murid dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, yaitu kesempurnaan manusia dunia akhirat. Jika seorang guru sudah bisa memberikan tauladan yang baik maka insyaallah akan terbentuk perilaku yang baik (akhlakul karimah) dalam jiwa peserta didik (murid), jangan dijadikan guru sebagai profesi ansich tapi jadikan guru sebagai wujud pengabdian untuk membina umat manusia menuju manusia berbudi luhur.

Tidak ada komentar: