Bila kita ingin menanggapi tentang globalisme memang sangat menarik, apalagi isu globalisme tersebut disandingkan dengan dunia pendidikan maka timbullah kebijakan dalam dunia pendidikan kita yaitu Sekolah Bertaraf Internasional atau Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, bak kacang goreng yang laris dicari orang mungkin inilah istilah yang tepat untuk mengistilahkan trend yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, khususnya dalam dunia pendidikan. Keberadaan sekolah-sekolah yang bermunculan saat ini seperti SBI merupakan sekolah yang paling diminati oleh masyarakat pada umumnya, walaupun dengan biaya selangit, kualitas tidak sebanding dengan nama yang mereka tempelkan di jargon sekolah yaitu “Intenasional”, para orangtua berlomba-lomba menyekolahkan buah hati mereka untuk “beradu nasib” di sekolah yang “menjanjikan” ini yang terkadang juga hanya karena ingin meninggikan “gengsi’ (prestise) di tengah-tengah komunitas mereka.
Seringkali orang kurang memahami kebijakan yang terkait dengan kata-kata “Internasional” dalam satuan pendidikan yang ada di negeri ini. Orang lebih bangga bila anak mereka bisa sekolah disekolah yang “berprestise” ini. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa memahami tentang kebijakan ini. Internasionalisasi dunia pendidikan ini merupakan bagian dari isu PBB (perserikatan Bangsa-Bangsa) yang dikenal dengan MDG’s (Millenium Development Goals,2006). Dalam kebijakan ini PBB menginginkan adanya kemajuan yang merata di berbagai bidang. Salah satunya adalah dunia pendidikan yang sekarang lebih dikenal dengan SBI (Sekolah Berstandar Internasional).
Bagi negara yang masih berkembang diharapkan dapat mencontoh Negara yang lebih maju termasuk dalam dunia pendidikan. Yang selanjutnya penulis menistilahkan dengan globalisasi pendidikan. Mungkin dengan adanya globalisasi pendidikan disatu sisi akan mendatangakan sebuah “berkah” namun disatu sisi juga akan mendatangkan “petaka”, atau dipihak lain akan muncul sebuah “kegembiraan” sekaligus muncul sebuah “kepedihan”. Cirri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Disitu terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi dunia pendidikan kita. Jika ambivalensi globalisasi ini kita kaitkan dalam dunia pendidikan paling tidak akan muncul beberapa hal, diantaranya adalah :
1.Globalisasi menghadirkan pesona "kecepatan" yang akan berlawanan dengan masalah "kedangkalan pemahaman pengetahuan pada anak didik";
2.Globalisasi "menguntungkan bagi yang berpikir dan bertindak cepat" dan "celaka bagi orang yang berpikir dan bertindak lambat;
3.Globalisasi akan "memudahkan membuat hubungan dan mengatasi jarak wilayah (lokalitas) " tetapi "adanya ketidakpekaan pada akar dan ciri-ciri budaya lokal"; dan
4.Globalisasi akan "memunculkan potensi menyelesaikan masalah secara cepat pada skala global" tetapi "menjadi beban keluasan lingkup pada skala penyebab masalah".
Berbagai dilema diatas akan tetap menjadi ciri globalisasi sampai kapanpun. Namun kita sebagai pendidik mau tidak mau pasti akan masuk dalam sebuah sistem yang sudah merajalela berbagai lini kehidupan ini, walaupun awal Agenda ini terbentuk dalam ranah ekonomi, yaitu pemercepatan Interkoneksi Global (O’Neill,2004).
Bagaimana sikap kita menghadapi kenyataan tersebut?
Dalam menghadapi kenyataan ini, paling tidak kita akan menghapi dua pilihan yaitu antara “membiarkan diri terseret oleh proses globalisasi” atau “kita memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi”. Penulis kira, kita semua pasti akan memilih pada pilihan yang kedua yakni memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi, dengan demikian kita harus memasuki sebuah sistem yang sudah mendunia ini dengan penuh sadar dan ikhlas.
Di samping itu, kita harus pula mendefinisikan dengan jelas, jenis globalisasi seperti apa yang akan kita pergunakan sebagai rancangan dasar untuk menjalani proses pendidikan yang ada saat ini. Penulis kira hal ini sangat penting, mengingat dengan alasan bagaimanapun kita sebagai bangsa Indonesia memiliki pola pikir dan tindak laku yang berbeda dengan orang-orang barat sehinggga kita tidak serta merta mengingkuti apa yang ada dalam dunia barat, termasuk dalam standarisasi pendidikan yang sekarang lebih “ngetren” disebut dengan Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Kita harus berfikir ulang dan menformat system pendidikan yang sesuai dengan budaya kita, dengan pola pikir masyarakat timur, dengan tetap memperhatikan etika kecerdasan jiwa (Spiritual, Emosional) dan tidak menafikan potensi Intelektual lahiriah.
Selasa, 24 November 2009
Redefinisi Teori Belajar
REDEFINISI TEORI BELAJAR
Setelah membaca dan berusaha memahami secara sekilas mengenai definisi belajar yang ada saat ini banyak sekali dipengaruhi oleh pemikiran ahli pendidikan barat, yang notabene pemikiran mereka seringkali jauh dari adab dan pemikiran orang-orang timur. Pemikiran para ilmuan barat tentang belajar sering kali melupkan hal-hal yang bersifat spiritual, paling “mentok” mereka hanya sebatas berfikir masalah emosional, teori inipun baru muncul dalam dekade terakhir pada abad 20.
Bila kita cermati, hampir semua refernsi karya ilmiah kita temukan semua memakai refrensi para pemikir ilmuwan barat. Bukanya tidak boleh tapi alangkah lebih baiknya kita bangga dan lebih mengutamakan karya para Ilmuan muslim khususnya terkait dengan masalah pembelajaran/pendidikan.
Perlu kita ketahui bersama, bahwa belajar merupakan proses penemuan jati diri dan relevansi ide, jika dalam proses penemuan jati diri ini dengan dilandasi adanya ide-ide dari para Ilmuawan yang sering kali kurang sesuai dengan keyakinan kita sebagai umat yang beragama ini akan sangat berbahaya bagi pola perkembangan berfikir umat kedepan. Tentang pemahaman filosofi manusia, pembelajaran dan tujuan hidup di dunia misalnya, bagi para Ilmuwan barat khususnya yang Atheis kebanyakan menganggap bahwa hidup ini cukup di dunia saja, tanpa mengenal akhlak, kehidupan setelah mati (akhirat). Ini penting untuk di cermati sebagai landasan pola pikir kita sebagai pelaksana dan pengemban amanah pendidikan.
Implikasi dari pemikiran ini adalah munculnya teori-teori baru tentang pembelajaran khususnya mengenai prinsip-prinsip pembelajaran yang sering kali melupakan dimensi terpenting dalam jiwa manusia yaitu mengenai perbaikan mutu akhlakul karimah dalam jiwa pendidik dan peserta didik. Belajar adalah proses menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan akhlak yang baik. Dengan demikian pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan-perubahan yang progressive pada tingkah laku manusia. Hal ini didasarkan pada batin manusia yang memiliki empat unsur yang harus diperbaiki secara keseluruhan serasi dan seimbang. Keempat unsur tersebut meliputi: kekuatan ilmu, kekuatan “ghadab”(kemarahan), kekuatan syahwat (keinginan), dan kekuatan keadilan. Dengan terintegrasinya keempat unsur tersebut dalam diri manusia, maka diharapkan dapat melahirkan keindahan watak manusia.
Sedangakan tujuan pembelajaran itu sendiri pada akhirnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan manusia untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, inilah tujuan akhir hidup kita sebagai umat beragama.
Bertolak dari pemikiran diatas, maka secara jelas dapat dikatan bahwa tujuan pembelajaran yang dikonsepkan oleh para Ilmuwan Barat ada sedikit perbedaan yang mencolok dengan pola pikir orang timur yang masih sangat “gandrung” dengan nilai-nilai agama, akhlakul karimah, konsep tentang kesempurnaan manusia baik dhahir maupun bathin. Oleh sebab itu, kita sebagai pendidik harus bisa memposisikan diri untuk memperbaiki diri sehingga akan muncul akhlak yang luhur karena ia menjadi publik figur yang patut diteladani dan diberi amanah untuk membimbing murid dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, yaitu kesempurnaan manusia dunia akhirat. Jika seorang guru sudah bisa memberikan tauladan yang baik maka insyaallah akan terbentuk perilaku yang baik (akhlakul karimah) dalam jiwa peserta didik (murid), jangan dijadikan guru sebagai profesi ansich tapi jadikan guru sebagai wujud pengabdian untuk membina umat manusia menuju manusia berbudi luhur.
Setelah membaca dan berusaha memahami secara sekilas mengenai definisi belajar yang ada saat ini banyak sekali dipengaruhi oleh pemikiran ahli pendidikan barat, yang notabene pemikiran mereka seringkali jauh dari adab dan pemikiran orang-orang timur. Pemikiran para ilmuan barat tentang belajar sering kali melupkan hal-hal yang bersifat spiritual, paling “mentok” mereka hanya sebatas berfikir masalah emosional, teori inipun baru muncul dalam dekade terakhir pada abad 20.
Bila kita cermati, hampir semua refernsi karya ilmiah kita temukan semua memakai refrensi para pemikir ilmuwan barat. Bukanya tidak boleh tapi alangkah lebih baiknya kita bangga dan lebih mengutamakan karya para Ilmuan muslim khususnya terkait dengan masalah pembelajaran/pendidikan.
Perlu kita ketahui bersama, bahwa belajar merupakan proses penemuan jati diri dan relevansi ide, jika dalam proses penemuan jati diri ini dengan dilandasi adanya ide-ide dari para Ilmuawan yang sering kali kurang sesuai dengan keyakinan kita sebagai umat yang beragama ini akan sangat berbahaya bagi pola perkembangan berfikir umat kedepan. Tentang pemahaman filosofi manusia, pembelajaran dan tujuan hidup di dunia misalnya, bagi para Ilmuwan barat khususnya yang Atheis kebanyakan menganggap bahwa hidup ini cukup di dunia saja, tanpa mengenal akhlak, kehidupan setelah mati (akhirat). Ini penting untuk di cermati sebagai landasan pola pikir kita sebagai pelaksana dan pengemban amanah pendidikan.
Implikasi dari pemikiran ini adalah munculnya teori-teori baru tentang pembelajaran khususnya mengenai prinsip-prinsip pembelajaran yang sering kali melupakan dimensi terpenting dalam jiwa manusia yaitu mengenai perbaikan mutu akhlakul karimah dalam jiwa pendidik dan peserta didik. Belajar adalah proses menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan akhlak yang baik. Dengan demikian pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan-perubahan yang progressive pada tingkah laku manusia. Hal ini didasarkan pada batin manusia yang memiliki empat unsur yang harus diperbaiki secara keseluruhan serasi dan seimbang. Keempat unsur tersebut meliputi: kekuatan ilmu, kekuatan “ghadab”(kemarahan), kekuatan syahwat (keinginan), dan kekuatan keadilan. Dengan terintegrasinya keempat unsur tersebut dalam diri manusia, maka diharapkan dapat melahirkan keindahan watak manusia.
Sedangakan tujuan pembelajaran itu sendiri pada akhirnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan manusia untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, inilah tujuan akhir hidup kita sebagai umat beragama.
Bertolak dari pemikiran diatas, maka secara jelas dapat dikatan bahwa tujuan pembelajaran yang dikonsepkan oleh para Ilmuwan Barat ada sedikit perbedaan yang mencolok dengan pola pikir orang timur yang masih sangat “gandrung” dengan nilai-nilai agama, akhlakul karimah, konsep tentang kesempurnaan manusia baik dhahir maupun bathin. Oleh sebab itu, kita sebagai pendidik harus bisa memposisikan diri untuk memperbaiki diri sehingga akan muncul akhlak yang luhur karena ia menjadi publik figur yang patut diteladani dan diberi amanah untuk membimbing murid dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, yaitu kesempurnaan manusia dunia akhirat. Jika seorang guru sudah bisa memberikan tauladan yang baik maka insyaallah akan terbentuk perilaku yang baik (akhlakul karimah) dalam jiwa peserta didik (murid), jangan dijadikan guru sebagai profesi ansich tapi jadikan guru sebagai wujud pengabdian untuk membina umat manusia menuju manusia berbudi luhur.
Sabtu, 21 November 2009
Sabtu, 21 Nopember 2009
RAHASIA DIBALIK SETIAP PERMASALAHAN
(Laksitaning Subrata Tanyipto Marang Bayaning Lampah)Setiap manusia tak akan bisa menjauh dari permasalahan (problem) dan tiap-tiap individu diberikan oleh allah senjata untuk mengatasi setiap permasalahnya masing-masing, dan untuk menyelesaikanya tak jarang mereka harus berjuang mati-matian untuk bisa bertahan dan menguasainya tapi tak jarang pula yang 'kalah' dalam menghadapi permasalahan disebabkan kebanyakan dari mereka tak sadar bahwa hidup ini merupakan suatu masalah ketika kita lahir umpamanya kita sudah dihadapi sebuah permasalahan bahkan kita sudah memberikan masalah pada orang lain.
Bila kita mau merenung dan meresapi setiap permasalahan yang menimpa kita atau merenungkanya setiap detik dari perjalanan hidup ini, maka kita akan menemukan suatu pertanyaan seandainya hidup ini tak ada permasalahan maka apa yang terjadi ? apakah kita bisa hidup bila kita tak dihadpakan suatu permasalahan ? sering kali kita lupa bahwa karena suatu permasalahan lah kita akan mermperoleh kedewasaan dalam berfikir,bersikap dan dalam memutuskan suatu keputusan,, dengan adanya permaslahan kita akan lebih cerdas dalam menghadapi hidup ini karena dalam permasalahan kita akan tertantang untuk mencari solusi dan menyelesaikanya.
Adanya mobil, Rumah atau apa saja yang ada di dunia ini pasti bermula dari suatu permasahan, hanya Manusia yang ULUL AL-ALBAB yang mampu mengambil suatu pernmasalahan menjadi hal-hal yang bermanfaat bagi sesama karena mereka selalu berfikir dan berfikir, yang dibarengi dengan berbagai macam pertanyaan mengapa ALLAH SWT, menciptakan semua ini ? Bila Allah menciptan hal ini pasti ada HIKMAHNYA, hal inilah yang membedakan antara kita dengan manusia-manusia pilihan (Ulul Al-albab).
Sering kali kita berkelu kesah setiap menghadapi permasalahan dan tak jarang pula kita menyalakan orang lain yang disertai dengan berbagai apologi, seharusnya kita lebih jujur dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelesaikanya bukankah ALLAH berfirman dalam Al-qur'an Bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dalam surat tersebut Allah SWT meyakinkan pada kita sehingga dipertegas sampai dua kali, selain ayat tersebut Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah La yukallifullah nafsan Illa Wus'aha (Allah tidak akan memberikan suatu beban pada seseorang kecuali Allah sudah mngukur kadar kemampuanya). dari hal tersebut masihkah kita punya fikiran untuk lari dari setiap permasalahan ??? sungguh hanya orang-orang yang Malas lah yang putus asa dalam menghadapi permaslahan.
Dari beberapa uraian diatas tentunya lahir sebuah pertanyaan baru, kalau memang benar bahwa setiap masalah itu dari Allah dan di setiap permasalahan itu ada hikmah yang terkandung, Bagaimanakah cara kita untuk menyikapi suatu permasalahan sehingga muncul suatu solusi yang penuh dengan Hikmah ? selain itu bisa kah kita mendeteksi dari mana sebenarnya Allah meletakkan pertama kali rasa perasaan yang menganggap bahwa sesuatu itu merupakan suatu problem (masalah) ? benarkah hidup ini akan lebih tenang bila kita bisa menghayati setiap kejadian (masalah) disertai dengan rasa penuh kesabaran dan selalu berdzikir (ingat kebesaran dan kerahimanNya) pada Allah maka permasalahan itu akan sirnah ?
Secara psikologis setiap individu mempunyai kecendrungan sendiri-sendiri dalam menyikapi setiap permasalahan yang ada disekitarnya, tergantung latar belakang (background), budaya (pendidikan, social ) tempat ia hidup, seperti orang yang beragama (mengaku adanya eksistensi tuhan dalam dirinya) maka ia akan cendrung mengembalikan setiap permaslahan yang ia hadapi pada Tuhanya (Tawakkal) dan tak jarang pula pada kelompok ini akan bersifat apatis dalam ke hidupan, sehingga ia cendrung bersifat Jabbariyah (tanpa usaha yang sungguh-sungguh/terlalu pasrah pada kehendak Tuhan) dalam menghadapi setaip problem (permaslahan) begitu pula sebaliknya bagi mereka yang keyakinanya pada tuhan kurang maka ia akan selalu lari dari permasalahan dengan berbagai cara, ada yang minum obat penenang, ada pula yang memecahkan permasalahannya dengan menkonsumsi barang-barang yang membahayakan seperti narkoba dll.
Selain itu adapula yang berkeyakinan bahwa setiap permaslahan itu sebenarnya muncul dari dalam individu-individu itu sendiri, ini artinya bahwa bila seseorang tersebut menganggap dalam hatinya 'ini adalah suatu masalah' maka muncullah di permukaan bahwa hal tersebut memang benar-benar masalah, namun bila kita menganggap bahwa hal tersebut bukan suatu masalah dan hanya menganggap bahwa ini merupakan 'Ilmu Baru' dengan penuh keyakinan yang mantap disertai dengan berfikir jernih dan penuh dengan ketenangan maka yang muncul adalah suatu solve yang jitu yang seakan akan tak ada masalah lagi, inilah yang disebut dengan ber Husnudhon pada Allah, karena ia yakin bahwa setiap permasalahan yang diberikan oleh Allah padanya tentunya sudah diukur pada kemampuan masing-masing individu, sehingga yang dipikirkan hanya apa Hikmahnya (Ilmu yang tersimpan pada setiap permasalahan yang dihadapi) yang dapat diambil, dengan semangat yang menggebu dibarengi dengan belajar sungguh-sungguh uintuk mencari solusinya, bila hal ini dalakukan dengan kontinyu maka muncullah Jiwa-jiwa kesatria yang siap menghadapi ganasnya gelombang kehidupan.
by: Ahmad Zain Fuad*
Langganan:
Komentar (Atom)
