Minggu, 18 April 2010

Kepala Sekolah Sebagai Motivator

Pendahuluan
Sekolah adalah lembaga yang bersifat kopleks dan unik. Bersifat unik karena sekolah sebagai organisasi didalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling barkaitan dan saling menentukan. Sedang sifat unik, menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lain. Ciri-ciri yang menempatkan sekolah memiliki karakter tersendiri, dimana proses belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan.
Karena sifatnya yang unik dan komplek itulah sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinsi yang tinggi. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.
Kepala sekolah yang berhasil adalah kepala sekolah yang memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Darisinilah dapat kita pahami bahwa tugas dan fungsi kepala sekolah sangat penting.
Sebelum kita mendiskusikan lebih dalam mengenai kepala sekolah sebagai motivator, kita harus memahami dua makna yang terkadung dalam kata Kepala dan Sekolah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kepala dapat diartikan sebagai “ketua” atau “pemimpin” dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga. Sedang ‘sekolah’ adalah sebuah lembaga dimana terjadi tempat menerima dan member pelajaran. Dengan demikian secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai “seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antar guru yang memberikan pelajaran dan murid yang menerima.
Dalam praktik organisasi kata pemimpin, mengandung konotasi menggerakkan, mengarahkan, memimbing, melindungi, membina, memberikan teladan, memberikan dorongan (motivator), memberikan bantuan dan lain sebagainya, oleh sebab itu pada kesempatan ini kami akan mendiskusikan tentang kepala sekolah sebagai motivator..
Kepala Sekolah Sebagai Motivator
Sudah diketahui bahwa motivasi dalam dunia pendidikan merupakan hal yang penting. Dengan motivasi mampu membangkitkan minat dan mampu mendorong seseorang untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi akan mampu mendorong peserta didik untuk mau belajar dan meningkatkan prestasi belajarnya, bagi guru akan mampu meningkatkan kegairahan untuk belajar dan meningkatkan kompetensi keguruannya sehingga mampu meningkatkan prestasi kerja dan pengajaran.
Barelson dan steiner (dalam Hutahuruk, 1987:115) mendefinisikan “motivasi sebagai suatu dorongan, mengaktifkan atau menggerakkan, dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku kearah tujuan”. Berbagai referensi mengemukakan bahwa motivasi berasal dari dua sumber, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri (bersifat intrinsic) dan motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik). Dari kedua asal motivasi tersebut, yang paling utama adalah motivasi yang berasal dari dalam diri orang tersebut. Sifat motivasi dari dalam akan berlangsung lebih lama dan relative stabil. Sedangkan motivasi dari luar cenderung berubah-ubah dan bersifat sementara.
Dalam kaitanya Kepala Sekolah sebagai Motivator (Pencipta iklim kerja); Mampu mengatur lingkungan kerja baik fisik maupun non fisik; Menetapkan prinsip penghargaan (reward) dan hukuman (punishment); Menciptakan hubungan kerja yang demokratis, harmonis dan dinamis diantara guru, karyawan dan siswa, lingkungan masyarakat; Menanamkan nilai-nilai nasionalisme.
Sebagai motivator, kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB).
Dorongan dan penghargaan merupakan dua sumber motivasi yang efektif diterapkan oleh kepala sekolah. Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor yang datang dari dalam maupun datang dari lingkungan. Dari berbagai faktor tersebut, motivasi merupakan suatu faktor yang cukup dominan dan dapat menggerakkan faktor-faktor lain ke arah keefektifan (effectiveness) kerja, bahkan motivasi sering disamakan dengan mesin dan kemudi mobil, yang berfungsi sebagai penggerak dan pengarah. Motivasi adalah proses untuk merangsang orang untuk memperbaiki prestasi masa lampau sambil sambil mendapatkan penghasilan psikis yang bertambah dari apa yang mereka lakukan (Cribbin, 1990: 145).
Setiap tenaga kependidikan memiliki karakteristik khusus, yang berbeda satu sama lain, sehingga memerlukan perhatian dan pelayanan khusus pula dari pimpinannya agar memanfaatkan waktu untuk meningkatkan profesionalismenya. Perbedaan tenaga kependidikan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam kondisi psikisnya, misalnya motivasinya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan, kepala sekolah perlu memperhatikan motivasi para tenaga kependidikan dan faktor-faktor lain yang berpengaruh.

Terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan kepala sekolah untuk mendorong tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan profesionalismenya.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
a.Para tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan.
b.Tujuan kegiatan perlu disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada para tenaga kependidikan sehingga mereka mengetahui tujuannya bekerja. Para tenaga kependidikan juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.
c.Para tenaga kependidikan harus selalu diberitahu tentang hasil dari setiap pekerjaannya.
d.Pemberian hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
e.Usaha memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dapat dilakukan dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, menunjukkan bahwa kepala sekolah memperhatikannya, mengatur pengalaman sedemikian rupa sehingga setiap pegawai pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan.

Penghargaan penting artinya untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan dan mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Melalui penghargaan, tenaga kependidikan dirangsang untuk meningkatkan profesionalisme kerjanya secara positif dan produktif. Pelakasanaan penghargaan dapat dikaitkan dengan prestasi tenaga kependidikan secara terbuka, sehingga mereka memiliki peluang untuk meraihnya. Kepala sekolah harus berusaha menggunakan penghargaan secara tepat, efektif dan efisien untuk menghindari dampak negatif yang ditimbulkannya.
Kepala Sekolah bertindak sebagai Motivator adalah Kemampuan memberi dorongan agar seluruh komponen pendidikan dapat berkembang secara profesional, dengan mengembangkan kemampuan :
- Kemampuan mengatur lingkungan kerja
- Kemampuan mengatur suasana kerja
- Kemampuan menerapkan prinsip
- Penghargaan dan hukuman
Departemen Pendidikan nasional menjabarkan peran kepala sekolah sebagai motivator sebagai berikut:
(1)Kepala Sekolah mampu mengatur lingkungan kerja.
(2)Mampu mengatur pelaksanaan suasana kerja yang memadai.
(3)Mampu menerapkan prinsip memberi penghargaan maupun sangsi hukuman sesuai dengan aturan yang ada.
Lebih lanjut untuk mengukur peran kepala sekolah seperti diatas, ditetapkan indokator-indikator sebagai berikut, kepala sekolah harus mampu :
a.Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja.
b.Mengatur ruang kelas yang konduktif untuk kegiatan belajar mengajar dan bimbingan konseling.
c.Mengatur ruang laboratorium yang konduktif.
d.Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar.
e.Mengatur halaman atau lingkungan sekolah yang sejuk dan teratur.
f.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru.
g.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama karyawan.
h.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara guru dan karyawan.
i.Menciptakan prinsip penghargaan (reward), dan
j.Menciptakan prinsip hukuman.
Penutup
Dari beberapa penjelasan kepala sekolah sebagai motivator dapat disimpulkan bahwa :
(1)Kepala sekolah yang berhasil adalah kepala sekolah yang memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.
(2)Sebagai motivator, kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB).
(3) Indokator-indikator sebagai berikut, kepala sekolah harus mampu :
a.Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja.
b.Mengatur ruang kelas yang konduktif untuk kegiatan belajar mengajar dan bimbingan konseling.
c.Mengatur ruang laboratorium yang konduktif.
d.Mengatur ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar.
e.Mengatur halaman atau lingkungan sekolah yang sejuk dan teratur.
f.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru.
g.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama karya$wan.
h.Menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara guru dan karyawan.
i.Menciptakan prinsip penghargaan (reward), dan
j.Menciptakan prinsip hukuman.



Referensi :
Cribbin, James J. 1978. Effective Managerial Leadership. American Management Association,Inc.
Dharma, Agus. 1993. Blauchard, and Development. Edisi Indonesia, Pusdiklat Depdikbut.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Wahjosumidjo, 1999.Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta, PT Grafindo Persada.
___________, 1983. Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Kamis, 08 April 2010

Perencanaan Strategi dan Operasional

Perencanaan Strategi dan Operasional
Oleh: Ahmad Zain Fuad
Pendahuluan
Dua hal utama yang berkaitan dengan sebuah perencanaan adalah mengenai perencanaan strategi dan perencanaan operasional. Perencanaan strategi merupakan pandangan bahwa sebuah organisasi akan melaksanakan suatu pekerjaan dengan benar. Sedangkan perencanaan operasional Operasional memastikan bahwa apa yang kita kerjakan adalah benar sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan.
Perncanaan Strategi didefinisikan sebagai sebuah proses yang menentukan dalam sasaran atau tujuan, perubahan, dalam memperolah sumberdaya yang digunakan sebuah organisasi untuk mencapai apa yang di ingin diperoleh oleh organisasi tersebut.
Tujuan dari sebuah strategi secara langsung harus memiliki orientasi jangka panjang, memiliki potensi dan sumber daya yang berorientasi masa depan pula yang tentunya harus felksibel dan mudah beradaptasi dengan perubahan situasi dan kondisi yang telah terjadi. Tujuan strategi yang berorientasi masa depan biasanya lebih berorientasi pada klien dan secara langsung berhunbungan pada kebutuhan luar (eksternal). Rencana-renacana strategi menentukan karakter pimpinan organisasi yang sering berdasarkan pada hasil sebuah sistem.
Perncanaan Operasional adalah sebuah proses yang mana pengelola atau pememipin yang menentukan bahwa sumber daya telah didaptkan dan digunakan secara efektif dan efisien demi untuk melaksanakan atau menyempurnakan sasaran strategi. Perencanaan operasional fokus pada pengadaan suber daya, masalah-masalah operasional, dan stabilitas, semua itu harus dilasaknakan untuk meujudkan sasaran atau tujuan organisasi.
Sasaran Opersional biasanya berupa program, proyek (pembangunan) dan berorientasi pada staff secara langsung yang berhubungan dengan aktifias internal dan outcome organisasi. Rencana-rencana Operasional didesain untuk memperoleh hasil akhir dengan pengeluaran minimanl dan efisien untuk sumber daya lembaga dan organisasi.

Bottom-Up Planning dan Top-Down Planning
Dalam mertencanakan sebuah proses pekerjaan dengan benar, perencanaan strategi harus dikembangkan dan membuat prioritas akhir untuk perkembangan dan terlaksananya perencanaan opersional. Perencanaan Opersional seharusnya tidak dikembangkan dengan inten lebih dulu dari perencanaan strategi diatas. Perencanaan Operasional dalam hal ini dikembangkan untuk menggambarkan membatasi keinginan dan resiko internal.
Opertional manager memandang bahwa perbaikan, perubahan, dan perpaduan dari Opersinal plans sebagai urutan dalam urusan mereka dengan administrator tingkat atas (top-level adminsitrator). Mereka sering menjadi berkecil hati terhadap apa yang mereka rencanakan ternyata berubah dan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan.
Bahwa Perencanaan yang dimulai dari level terendah, pendekatan Bottom Up ini biasanya jika menghasilkan sebuah kekecewaan atau kegagalan dalam perencanaan maka lower level adminstrator akan mengabaikannya karena rencana-rencana tidak sesuai dengan tujuan strategi yang sangat dianggap penting oleh pemimpin tingkat atas (top-level adminsitrator). Jika situasi yang tidak diharapkan diatas muncul maka secepatnya harus diadakan perubahan dari rencana awal, sehingga diaharpakan nantinya setiap personal dalam organisasi itu mempunyai perhatian yang tinggi terhadap setiap masalah yang dihadapi oleh organisasi.
Disamping masalah sumber daya manusia, pendekatan dengan Bottom Up tidak efektif jika ada pemimpin tingkat atas (top-level adminsitrator) yang kurang faham terhadap perubahan perencanaan opersional sehingga mereka sulit menjalankannya.

Sumber Finansial
Sungguh tidak mungkin jika kita membicarakan sebuah rencana tapi mengesampingkan masalah finansial. Semakin baik kondisi finansial sebuah organisasi maka akan semakin bagus perjalanan organisasi tersebut khususnya dalam mendukung apa yang sudah direncanakan. Dan sebaliknya jika finansialnya kurang baik maka ada kemungkinan sebuah rencana yang sudah direncanakan dalam organisasi akan gagal.
Perencanaan strategi yang meliputi sasaran-sasaran dan tujuan organisasi diciptakan melalui proses adminstrasi yang dijalankan secara terus menerus dan seharusnya menjadi prioritas utama dalam memulai proses menganggarkan belanja. Rencana pendapatan dan belanja masuk untuk meneruskan atau melanjutkan perncanaan operasional. Bagaimanapun juga, jika anggaran belanja tidak di support, didukung oleh strategi plans maka hubungan antara perencanaan opersional dan strategi tidak akan bisa berkembang.

Sumber Daya Manusia
Hal penting yang lain dalam proses pelaksanaan sebuah perencanaan adalah sikap para pegawai, pekerjaan yang memuaskan, keadaan./suasana organisasi dan yang terakhir adalah penampilan (performance) para individu/pegawai.
masalah-masalah perencanaan, Planning Problems Khususnya yang berkembang selama pelaksanaan ketika individu dan kelompok terjadi konflik sehingga akan membahayakan dalam organisasi. Mekanisme kontrol yang tepat seperti adanya superfisi akan dapat mengurangi masalah-masalah yang ringan. Tidak ada yang lebih penting dalam planning daripada komitmen seseorang dan komitmen tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya kontrol.